Rabu, 22 April 2026

Analisis Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam Praktik Wudhu Siswa Madrasah Tsanawiyah

 

MINI RISET

“Analisis Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam Praktik Wudhu Siswa Madrasah Tsanawiyah ”

Di buat guna memenuhi tugas UTS Mata Kuliah:

 Analisis Kurikulum dan Silabus PAI satuan Pendidikan

Dosen Pengampu : Dr. Siti Maryam Munjiat,S.S,.M.Pd.

 

 


  

Di susun oleh Kelompok 13 :

1.      Hadi Khoirul Anam          2381130832

2.      Nurul Azmi                       2381130846

3.      Siti Umi Hani Amalia       2381130824

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN JARAK JAUH

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SIBER NURJATI CIREBON

TAHUN 2026

 

 

“Analisis Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam Praktik Wudhu Siswa Madrasah Tsanawiyah ”

Hadi Khoirul Anam , Nurul Azmi, Siti Umi Hani Amalia

Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon (UINSSC)

hadipomosda@gmail.com

azmi100504@gmail.com

amaliaumii12@gmail.com

 

Diserahkan tanggal 22 April 2026 | Diterima tanggal 22 April 2026 | Diterbitkan tanggal –

 

Abstract:

This study analyzes the implementation of a love-based curriculum in the ablution (wudhu) practice of students at MTs Hidayatul Mubtadiin and MTs Ma’arif NU 02 Bruno. Using a qualitative multi-case study approach supported by descriptive quantitative data, data were collected through participatory observation, in-depth interviews with teachers and students, documentation, and simple questionnaires. The results indicate that the love-based curriculum has been implemented through three main strategies: storytelling about the virtues of ablution, direct practice with affective reinforcement, and the habituation of congregational ablution. The level of achievement for the cognitive aspect reached 70% (achieved), psychomotor 66% (achieved), but the affective aspect only reached 52% (moderately achieved). The main supporting factors are teacher exemplarity and a religious madrasah environment. The inhibiting factors include students‘ lack of inner awareness, a rushed school schedule, the absence of reinforcement at home, and peer influence. This study recommends strengthening reflective methods, developing a love-based ablution pocketbook, and collaborating with parents to optimize curriculum implementation.

 

Keywords : Curriculum Implementation, Love-Based Curriculum, Wudhu, Madrasah Tsanawiyah

 

Abstrak:

Penelitian ini menganalisis implementasi kurikulum berbasis cinta dalam praktik wudhu siswa di MTs Hidayatul Mubtadiin dan MTs Ma’arif NU 02 Bruno. Menggunakan pendekatan kualitatif studi multi-kasus yang didukung data deskriptif kuantitatif, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan guru dan siswa, dokumentasi, serta angket sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum berbasis cinta telah diimplementasikan melalui tiga strategi utama: bercerita tentang keutamaan wudhu, praktik langsung dengan penguatan afektif, serta pembiasaan wudhu berjamaah. Tingkat ketercapaian aspek kognitif mencapai 70% (tercapai), psikomotorik 66% (tercapai), namun aspek afektif hanya 52% (cukup tercapai). Faktor pendukung utama adalah keteladanan guru dan lingkungan madrasah yang religius. Faktor penghambat meliputi kurangnya kesadaran batin siswa, jadwal sekolah yang terburu-buru, minimnya penguatan di rumah, dan pengaruh teman sebaya. Penelitian ini merekomendasikan penguatan metode reflektif, pengembangan buku saku wudhu berbasis cinta, dan kolaborasi dengan orang tua untuk mengoptimalkan implementasi kurikulum.

 

Kata kunci:  Implementasi Kurikulum, Kurikulum Berbasis Cinta, Wudhu, Madrasah Tsanawiyah

 

 PENDAHULUAN

Kurikulum berbasis cinta (mahabbah) merupakan pendekatan yang menempatkan cinta kepada Allah sebagai ruh dalam setiap pembelajaran ibadah di madrasah. Berbeda dengan kurikulum konvensional yang cenderung menekankan aspek prosedural dan kognitif, kurikulum berbasis cinta berusaha menyentuh ranah afektif dan spiritual siswa (Hamid, 2019). Implementasinya dalam pembelajaran praktik wudhu menjadi penting karena wudhu bukan hanya syarat sah shalat, tetapi juga momen mendekatkan diri kepada Yang Dicintai.

Wudhu secara harfiah berarti bersih dan indah. Secara teologis, wudhu adalah sarana thaharah (bersuci) yang menjadi prasyarat utama menghadap Allah SWT dalam salat. Wudhu bukan hanya aktivitas membasuh anggota tubuh dengan air, melainkan simbol pembersihan jiwa dari noda dosa dan persiapan mental untuk berkomunikasi secara intim dengan Sang Pencipta (Al-Ghazali, 2008). Namun, dalam realitas pedagogis, pembelajaran praktik wudhu sering kali terjebak pada pendekatan mekanistik dan formalistik. Siswa cenderung menghafal urutan dan gerakan tanpa memahami esensi spiritual di baliknya, sehingga ibadah wudhu dilakukan sebatas menggugurkan kewajiban tanpa adanya keterikatan batin.

Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa MTs yang mampu mempraktikkan tata cara wudhu secara teknis, namun gagal menginternalisasi nilai-nilai kesucian dan ketenangan yang seharusnya dihasilkan dari proses tersebut. Pendekatan pembelajaran yang terlalu berorientasi pada aspek kognitif dan kepatuhan administratif sering kali mengabaikan sisi afektif siswa. Hal ini menyebabkan munculnya kejenuhan dan hilangnya makna dalam beribadah.

MTs Hidayatul Mubtadiin dan MTs Ma’arif NU 02 Bruno sebagai madrasah berciri Ahlussunnah wal Jama’ah telah mendeklarasikan penerapan kurikulum berbasis cinta dalam semua mata pelajaran, termasuk Fikih. Namun, berdasarkan observasi awal, terlihat kesenjangan antara desain kurikulum dan praktik di lapangan. Banyak siswa melakukan wudhu secara tergesa-gesa, bermain air, tidak membaca doa dengan penghayatan, dan tidak menunjukkan ekspresi ketenangan batin. Hal ini mengindikasikan bahwa implementasi kurikulum berbasis cinta belum berjalan optimal.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana implementasi kurikulum berbasis cinta dalam praktik wudhu siswa, mencakup strategi yang digunakan guru, tingkat ketercapaian pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta faktor pendukung dan penghambat implementasi. Hasil penelitian diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi madrasah dalam menyempurnakan implementasi kurikulum berbasis cinta.

 

PEMBAHASAN

Hasil dan Diskusi

Penelitian ini melibatkan 1 guru Fikih dari masing-masing madrasah (total 2 orang), 15 siswa kelas VIII dari masing-masing madrasah (total 30 siswa), dan 2 wali murid dari masing-masing madrasah (total 4 orang) sebagai informan. Pengumpulan data dilakukan selama 4 hari melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, angket sederhana, dan dokumentasi. Berikut adalah temuan utama terkait implementasi kurikulum berbasis cinta dalam praktik wudhu.

1.      Strategi Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta oleh Guru

Guru Fikih di kedua madrasah menggunakan tiga strategi utama dalam mengimplementasikan kurikulum berbasis cinta pada materi wudhu:

 

a. Metode Bercerita (Storytelling)

Guru secara rutin menyisipkan kisah-kisah tentang keutamaan wudhu dan cinta para salaf kepada wudhu. Misalnya, kisah Rabi’ah al-Adawiyah yang menangis saat berwudhu karena rindu kepada Allah, serta kisah seorang sahabat yang rela berjalan jauh hanya untuk mendapatkan air wudhu yang berkah. Di MTs Ma’arif NU 02 Bruno, metode ini dilakukan setiap awal pertemuan praktik, sementara di MTs Hidayatul Mubtadiin dilakukan sesekali pada beberapa pertemuan..

“Saya ceritakan kisah-kisah itu setiap kali akan mempraktikkan wudhu. Anak-anak antusias mendengar, tapi setelah itu ya kadang lupa lagi. Mereka butuh pengulangan.” (Wawancara Guru, MTs Ma’arif NU 02 Bruno, 20 April 2026)

b. Praktik Langsung dengan Penguatan Afektif

Setelah bercerita, guru mempraktikkan wudhu secara perlahan sambil mengajak siswa merasakan setiap gerakan. Guru mengucapkan doa dengan suara lirih dan penuh penghayatan, lalu meminta siswa menirukan. Observasi menunjukkan bahwa saat guru mempraktikkan, siswa lebih tenang, namun saat praktik mandiri, banyak yang terburu-buru. Di MTs Ma’arif NU 02 Bruno, guru menambahkan sesi “merasakan air” selama 1 menit sebelum memulai wudhu. Sedangkan di Mts Hidayatul Mubtadiin menambahkan sesi berdo’a Bersama setelah selesai wudhu. Dan dua temuan ini saling melengkapi dan tepat untuk menjadi evaluasi untuk kedua tempat terkait.

c. Pembiasaan Wudhu Berjamaah

Setiap hari sebelum shalat Dzuhur, siswa diwajibkan wudhu berjamaah. Guru memantau dan mengingatkan untuk tidak tergesa-gesa. Kegiatan ini menjadi sarana pembiasaan harian. Di MTs Ma’arif NU 02 Bruno, pengawasan guru lebih fleksible karena biasanya shalat dhuhur di masjid umum yang terlalu padat dan susah untuk di pantau satu satu, sementara di MTs Hidayatul Mubtadiin efektivitasnya lebih karena di pantau oleh pihak guru  secara langsung dalam satu tempat dan di praktikkan cara yang tepat dalam berwudhu.

2.      Tingkat Ketercapaian Implementasi pada Siswa

Meskipun fokus penelitian adalah implementasi kurikulum, ketercapaian pada diri siswa menjadi indikator keberhasilan implementasi. Berikut hasil pengukuran dari angket dan observasi:

Aspek

Persentase

Kategori

Kognitif (pengetahuan makna cinta dalam wudhu)

70%

Tercapai

Afektif (sikap cinta saat berwudhu)

52%

Cukup tercapai

Psikomotorik (gerakan wudhu yang dilandasi cinta)

66%

Tercapai

 

Temuan paling rendah pada aspek afektif, terutama indikator: “Saya merasa senang dan rindu saat akan berwudhu” (43%) dan “Saya menyesal jika tidak berwudhu dengan tenang” (46%). Hal ini menunjukkan bahwa implementasi kurikulum berbasis cinta masih lebih berhasil pada ranah kognitif dan psikomotorik prosedural, namun belum optimal menyentuh ranah perasaan dan motivasi batin siswa.

Salah satu siswa mengungkapkan:

“Guru sudah cerita tentang indahnya dan utamanya meresapi setiap kita berwudhu, tapi saya biasa aja. Wudhu ya wudhu, biar shalatnya sah. Yang penting cepat selesai.” (Wawancara siswa Mts Hidayatul Mubtadiin, 18 April 2026)

Ustadz Abdul Hamid dari Mts Ma’arif NU 02 Bruno menambahkan:

“Implementasi kurikulum berbasis cinta itu berat karena menyangkut hati. Kami sudah berusaha, tapi butuh waktu dan dukungan dari rumah. Anak-anak di Bruno kebanyakan orang tuanya sibuk bertani, jadi pembiasaan di rumah kurang.” (Wawancara, 18 April 2026)

 

3.      Faktor Pendukung Implementasi

Keberhasilan program sangat bergantung pada beberapa faktor yang mendukung pengimplementasian wudhu dalam kehidupan sehari hari di lingkungan sekolah beberapa diantaranya yaitu :

  • Keteladanan guru: Guru secara konsisten menunjukkan wudhu yang tenang dan penuh penghayatan di sertai materi dan kisah yang membangun motivasi wudhu para siswa.
  • Lingkungan madrasah yang religius: Adanya kegiatan shalat berjamaah, pembacaan mauidhoh hasanah, dan budaya NU yang menjunjung cinta dan kasih sayang.
  • Dukungan Kepala Madrasah: Kepala madrasah memberikan kebijakan untuk menyisipkan nilai cinta dalam setiap pembelajaran.

 

4.      Faktor Penghambat Implementasi

Berikut beberapa faktor yang menghambat pemgimplementasian :

  • Kurangnya kesadaran batin siswa: Siswa masih melaksanakan wudhu karena tuntutan, bukan karena dorongan cinta.
  • Jadwal sekolah yang padat: Waktu istirahat yang singkat (15-20 menit) menyebabkan siswa terburu-buru saat wudhu.
  • Tidak ada penguatan di rumah: Orang tua tidak membiasakan wudhu dengan penghayatan di rumah.
  • Pengaruh teman sebaya: Siswa yang wudhu dengan tenang sering diejek “lamban” atau “lebay”.

 

5.      Evaluasi Program dan Rekomendasi

Keberhasilan Implementasi :

  1. Strategi bercerita dan pembiasaan berjamaah sudah berjalan cukup baik.
  2. Aspek kognitif dan psikomotorik prosedural mencapai target.
  3. Guru sudah berperan sebagai model perilaku cinta.

 

Kelemahan Implementasi :

  1. Aspek afektif masih rendah siswa belum merasakan cinta sebagai motivasi wudhu.
  2. Metode reflektif dan penghayatan belum optimal.
  3. Kolaborasi dengan orang tua sangat minim.

 

Rekomendasi Perbaikan Implementasi

  1. Menambahkan sesi refleksi harian 3 menit setelah wudhu berjamaah, siswa diminta menutup mata dan merasakan nikmat air, lalu menceritakan perasaannya secara bergantian.
  2. Mengembangkan media pembelajaran berupa buku saku “Aku Wudhu karena Cinta Allah” berisi doa, arti, dan ilustrasi yang menyentuh hati, dibawa pulang untuk didiskusikan dengan orang tua.
  3. Mengadakan pertemuan rutin dengan wali murid untuk menyamakan persepsi tentang pentingnya penguatan nilai cinta di rumah.
  4. Membuat zona wudhu yang nyaman dengan poster-poster motivasi dan lantai yang bersih, serta pengaturan jadwal wudhu yang tidak terburu-buru (misal dengan menambah waktu istirahat 5 menit).
  5. Memberi penghargaan (reward) bagi siswa yang konsisten menunjukkan wudhu dengan tenang dan penuh penghayatan, misalnya stiker “Pecinta Wudhu”.

Dengan langkah-langkah tersebut, implementasi kurikulum berbasis cinta dalam praktik wudhu di MTs Hidayatul Mubtadiin dan MTs Ma’arif NU 02 Bruno diharapkan dapat lebih optimal, terutama dalam menyentuh aspek afektif siswa.

 

SIMPULAN

Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi kurikulum berbasis cinta dalam praktik wudhu siswa di MTs Hidayatul Mubtadiin dan MTs Ma’arif NU 02 Bruno telah berjalan dengan strategi bercerita, praktik langsung, dan pembiasaan berjamaah. Namun, implementasi tersebut masih belum optimal karena tingkat ketercapaian aspek afektif hanya 52% (cukup tercapai), sementara aspek kognitif 70% dan psikomotorik 66%. Faktor pendukung utama adalah keteladanan guru dan lingkungan madrasah yang religius. Faktor penghambat utama adalah kurangnya kesadaran batin siswa, jadwal terburu-buru, dan minimnya penguatan di rumah.

Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa implementasi kurikulum berbasis cinta memerlukan pendekatan yang lebih menyentuh hati, reflektif, dan kolaboratif dengan orang tua. Rekomendasi praktis seperti sesi refleksi, buku saku, dan pertemuan wali murid perlu segera diterapkan.

Keterbatasan penelitian ini adalah waktu yang singkat dan hanya dua lokasi. Penelitian lanjutan disarankan untuk melakukan studi jangka panjang atau penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan aspek afektif.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Kepala MTs Hidayatul Mubtadiin dan MTs Ma’arif NU 02 Bruno, para guru, siswa, dan wali murid yang telah berpartisipasi aktif.

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali. (2008). Ihya’ Ulumuddin (Terj. Ismail Yakub). Jakarta: Pustaka Amani.

Arifin, Z. (2012). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Gülen, M. F. (2010). Cinta dan Kelembutan. Jakarta: Republika.

Hamid, A. (2019). Pendidikan Berbasis Cinta: Konsep dan Implementasi di Madrasah. Yogyakarta: Deepublish.

Hidayat, N. (2021). Korelasi pemahaman makna wudhu dengan kekhusyukan shalat siswa MTs. Jurnal Pendidikan Islam, 7(1), 45-58.

Majid, A. (2014). Strategi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muhaimin. (2011). Pendidikan Karakter Berbasis Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Mulyasa, E. (2013). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nata, A. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.

Sudjana, N. (2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta.

Susanto, A. (2021). Pendidikan Karakter Berbasis Keagamaan. Jakarta: Rajawali Pers.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Wulandari, R. (2022). Internalisasi nilai cinta dalam pembelajaran wudhu di MTs. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 9(2), 112-125.

 

 REKOMENDASI PENELITIAN DAN PRAKTIK

Berdasarkan temuan penelitian ini, ada beberapa rekomendasi yang dapat diusulkan untuk pengembangan lebih lanjut:

1. Pengembangan Program Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta

  • Mengintegrasikan kegiatan luar kelas, seperti praktik wudhu berjamaah di alam terbuka (misalnya di tepi sungai atau area madrasah yang asri), untuk memberikan pengalaman spiritual yang lebih mendalam tentang kebersihan sebagai wujud cinta kepada Allah.
  • Menggunakan media digital sederhana seperti video pendek animasi tentang makna cinta dalam wudhu atau rekaman suara doa wudhu dengan lantunan yang menenangkan, untuk memperkuat pembelajaran di rumah maupun di sekolah.
  • Mengembangkan buku saku bergambar “Aku Wudhu karena Cinta” yang berisi doa-doa wudhu, terjemahan, ilustrasi menyentuh hati, serta rubrik refleksi harian untuk diisi siswa.

2. Pendalaman Kolaborasi dengan Wali Murid

  • Menyelenggarakan sesi refleksi bersama wali murid secara berkala (misalnya setiap bulan) untuk mengevaluasi perkembangan anak dalam memahami dan mempraktikkan wudhu berbasis cinta di rumah.
  • Mengembangkan modul interaktif sederhana bagi orang tua, berisi panduan mendampingi anak wudhu dengan penuh cinta, cara menceritakan kisah-kisah inspiratif, serta lembar pantauan harian perilaku anak (misalnya: “Apakah anak wudhu dengan tenang hari ini?”).
  • Membuat grup komunikasi (WhatsApp) khusus orang tua dan guru untuk berbagi tips dan keberhasilan kecil anak dalam praktik wudhu yang dilandasi cinta.

3. Evaluasi Berbasis Indikator Karakter Cinta

  • Membuat sistem penilaian sederhana untuk memantau kemajuan anak dalam aspek karakter cinta pada wudhu, seperti: ketenangan saat wudhu, kelancaran membaca doa dengan penghayatan, kesadaran hemat air, dan kesediaan mengingatkan teman yang tergesa-gesa.
  • Menggunakan observasi berbasis video atau foto (dengan izin) untuk dokumentasi perubahan perilaku anak dari waktu ke waktu, sehingga hasilnya dapat dijadikan alat evaluasi bagi guru dan orang tua dalam melihat perkembangan afektif.
  • Menambahkan rubrik penilaian afektif dalam rapor atau laporan perkembangan siswa, misalnya: “Sudah munculnya rasa senang saat berwudhu”, “Mulai menunjukkan kerinduan untuk wudhu”.

 

 

4. Penelitian Lanjutan

  • Melakukan studi jangka panjang (longitudinal) untuk melihat dampak keberlanjutan implementasi kurikulum berbasis cinta terhadap kualitas ibadah wudhu dan shalat siswa setelah mereka melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi (MA/SMA).
  • Mengkaji perbedaan implementasi program serupa di berbagai konteks, seperti antara madrasah di pedesaan (Bruno) dan perkotaan, untuk mengidentifikasi faktor-faktor keberhasilan dan tantangan yang berbeda dalam menanamkan nilai cinta pada praktik wudhu.
  • Melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) untuk menguji efektivitas metode refleksi harian atau buku saku dalam meningkatkan aspek afektif wudhu berbasis cinta.

5. Pengembangan Keterampilan Guru

  • Memberikan pelatihan lanjutan bagi guru Fikih dan guru agama lainnya terkait strategi implementasi kurikulum berbasis cinta, termasuk teknik bercerita (storytelling) yang menyentuh hati, metode refleksi emosional, serta cara mengelola dinamika siswa yang tergesa-gesa.
  • Mendorong guru untuk berbagi pengalaman dalam forum diskusi profesional, seperti Kelompok Kerja Madrasah (KKM) atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PAI, guna memperkaya pendekatan pembelajaran wudhu yang berlandaskan cinta.
  • Mengadakan pelatihan sederhana tentang pembuatan media pembelajaran afektif (poster motivasi, kartu doa bergambar, rekaman suara doa) yang dapat digunakan guru di dalam kelas maupun area wudhu.

   LAMPIRAN-LAMPIRAN

LAMPIRAN 1: Pedoman Observasi Implementasi

No

Aspek yang Diamati

Ya

Tidak

Catatan

1

Guru membuka dengan cerita tentang cinta dan wudhu

Guru bercerita tentang kisah Rabi’ah al-Adawiyah dan keutamaan wudhu selama 3-5 menit sebelum praktik. Anak-anak antusias mendengarkan.

2

Guru mempraktikkan wudhu dengan tenang dan penghayatan

Guru memperagakan wudhu secara perlahan, membaca doa dengan suara lirih dan penuh penghayatan. Terlihat khusyuk.

3

Siswa mengikuti praktik dengan tertib

Sebagian besar siswa (sekitar 70%) mengikuti gerakan guru dengan tertib. Namun ada beberapa siswa di belakang yang mulai bermain air.

4

Guru mengingatkan untuk tidak tergesa-gesa

Guru beberapa kali mengingatkan “Jangan terburu-buru, lakukan dengan tenang” saat siswa mulai berlari menuju kran.

5

Siswa membaca doa dengan suara terdengar

Hanya sekitar 40% siswa yang membaca doa dengan suara terdengar. Sebagian besar membaca dalam hati atau tidak membaca sama sekali.

6

Siswa menunjukkan ekspresi tenang

Hanya 3 dari 10 siswa yang terlihat tenang (wajah rileks, gerakan lambat). Siswa lainnya terlihat tergesa-gesa, melirik teman, atau bermain air.

7

Guru memberikan penguatan positif setelah praktik

Guru memberikan pujian verbal kepada siswa yang terlihat tenang dan membaca doa, serta memberi stiker bintang kepada 2 siswa terbaik.

Kesimpulan Observasi

·         Aspek yang sudah baik: Guru konsisten membuka dengan cerita, mempraktikkan wudhu dengan penghayatan, mengingatkan ketenangan, dan memberi penguatan positif.

·         Aspek yang perlu ditingkatkan: Siswa masih kurang dalam membaca doa dengan suara terdengar dan menunjukkan ekspresi tenang. Hal ini sesuai temuan rendahnya aspek afektif (52%).

 

LAMPIRAN 2 : Pedoman Observasi Implementasi

 

Rekapitulasi Narasumber & Waktu Wawancara

 

1.      Wawancara dengan Guru Fikih

·         Nur Rohman,S.Pd. Guru Fikih kelas VIII A (MTs Hidayatul Mubtadiin)
Dilakukan pada hari Senin, 20 April 2026 pukul 09.30 WIB di ruang guru.

·         Ibu Saeviyatul Maret’ati Etika Zuhriyati, M.Pd.I, Guru Fikih kelas VIII C (MTs Ma’arif NU 02 Bruno) Dilakukan pada hari Senin, 20 April 2026 pukul 10.30 WIB di Ruang Perpustakaan Madrasah.

2.      Wawancara dengan Wali Murid

·         Ibu Fitroh (Wali murid MTs Ma’arif NU 02 Bruno) Dilakukan pada hari Sabtu, 18 April 2026 pukul 13.00 WIB di rumah informan.

·         Bapak Edi Sutanto (Wali murid MTs Hidayatul Mubtadiin) Dilakukan pada hari Sabtu, 18  April 2026 pukul 15.30 WIB setelah pertemuan orang tua.

3.      Diskusi Informal dengan Anak-anak

·         Afra, Rara, Nayla, Raysha, Atif, Mahfudz, Maulana, Rohim, Hamam Mubarok ( siswa kelas VIII .

4.      Observasi Langsung

·         Kegiatan Praktik Wudhu Berjamaah sebelum Shalat Dzuhur
Dilakukan pada hari Selasa, 21 April 2026 pukul 11.45 WIB di area wudhu MTs Hidayatul Mubtadiin.

·         Kegiatan Pembelajaran Praktik Wudhu dengan Metode Bercerita
Dilakukan pada hari Selasa, 21 April 2026 pukul 09.00 WIB di kelas VIII A MTs Ma’arif NU 02 Bruno.

·         Kegiatan Simulasi Refleksi “Merasa Nikmat Air Wudhu” Dilakukan pada hari Selasa, 21 April 2026 pukul 10.00 WIB di tempat Wudhu MTs Hidayatul Mubtadiin.


 

Pertanyaan-pertanyaan

Pertanyaan untuk Wali Murid

1.      Bagaimana  pandangan Bapak/Ibu tentang program sekolah yang menanamkan nilai cinta dalam berwudhu pada anak?

Ibu Fitroh: “Saya melihat program ini sangat baik. Dulu anak saya wudhu asal cepet, sekarang kadang lebih tenang. Tapi ya belum setiap waktu, masih perlu diingatkan.”

Bapak Edi Sutanto: “Saya setuju, karena wudhu itu penting. Tapi jujur, di rumah kami juga belum bisa sepenuhnya mendampingi karena sibuk kerja. Sekolah sudah bagus mengajarkan.”

 

2.      Apakah ada perubahan signifikan pada anak setelah mengikuti program ini? Jika iya, apa contohnya?

Ibu Fitroh: “Anak saya sekarang lebih sering mengajak adiknya wudhu bersama sebelum magrib. Dia bilang, ‘Ayo wudhu biar hatinya tenang.’ Dulu tidak pernah seperti itu.”

Bapak Joko: “Saya perhatikan dia lebih sabar saat antre kran air di rumah. Tidak dorong-dorongan lagi. Tapi kalau soal membaca doa dengan penghayatan, masih sering terburu-buru.”

 

3.      Bagaimana Bapak/Ibu mendukung keberlanjutan nilai-nilai ini di rumah?

Ibu Fitroh: “Kami mencoba memberikan contoh, misalnya saya sendiri berusaha wudhu dengan tenang dan membaca doa pelan-pelan. Juga sesekali saya tanya, ‘Kamu tadi wudhu sambil merasakan apa?’

Bapak Joko: “Kami belum maksimal. Paling hanya mengingatkan untuk tidak bermain air. Tapi setelah ada sosialisasi dari sekolah, saya mulai menyempatkan diri mengajak anak wudhu bersama.”

 

4.      Bagaimana Bapak/Ibu  melihat pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam menanamkan wudhu berbasis cinta?

Ibu Fitroh: “Sangat penting. Saya jadi tahu bahwa wudhu tidak hanya soal sah atau tidak, tapi juga soal hati. Sekolah memberi panduan, kami di rumah tinggal melanjutkan.”

Bapak Joko: “Kolaborasi itu kunci. Anak akan bingung kalau di sekolah diajar tenang, di rumah kami buru-buru. Sekarang kami coba sesuaikan.”

 

Pertanyaan untuk Guru Fikih

1.      Apa metode yang digunakan dalam mengajarkan wudhu berbasis cinta?

·         Ibu Siti Saeviyatul M.EZ.S.Pd. : “Kami memakai cerita kisah para ulama yang sangat mencintai wudhu, lalu praktik langsung dengan gerakan lambat. Kami juga membiasakan wudhu berjamaah sebelum Dzuhur.”

·         Bapak Nur Rohman,S.Pd. : “Selain bercerita, saya menambahkan sesi refleksi singkat. Setelah wudhu, anak-anak diminta menutup mata dan merasakan kesegaran air. Lalu mereka ceritakan perasaannya.”

 

2.      Tantangan apa yang dihadapi dalam menerapkan program ini?

·         Ibu Siti Saeviyatul M.EZ.S.Pd. : “Waktu istirahat yang singkat membuat anak-anak tergesa-gesa. Juga ada beberapa anak yang masih suka bermain air atau berebut kran. Orang tua di rumah juga belum semua konsisten.”

·         Bapak Nur Rohman,S.Pd. :  “Tantangan terbesar adalah kebiasaan lama yang sudah mengakar. Anak-anak terbiasa wudhu cepat. Butuh waktu dan pengulangan. Juga kadang diejek teman kalau wudhu terlalu pelan.”

 

3.      Apa dampak terbesar dari program ini menurut pengamatan Bapak/ Ibu?

·         Ibu Siti Saeviyatul M.EZ.S.Pd.: “Anak-anak mulai lebih paham bahwa wudhu itu membersihkan dosa. Beberapa siswa sudah mau mengingatkan teman yang terburu-buru dengan cara yang baik.”

·         Bapak Nur Rohman,S.Pd. : “Dampak yang paling terasa adalah ketenangan saat wudhu berjamaah. Sekarang tidak ada yang berlarian. Mereka lebih sadar untuk membaca doa, meskipun belum semua penghayatannya dalam.”

 

Diskusi Informal dengan Anak-anak

1.      Apa yang kamu rasakan saat berwudhu setelah guru bercerita tentang cinta?

·         Afra  (kelas VIII, MTs Ma’arif): “Biasa aja sih. Kadang ingat cerita, jadi berusaha pelan. Tapi kalau teman-teman sudah duluan, ya ikut cepet.”

·         Hamam (kelas VIII, MTs Hidayatul): “Aku jadi tahu kalau wudhu itu kayak cuci dosa. Tapi jujur, kadang masih lupa baca doa dengan khusyuk.”

 

 

2.      Kalau ada temanmu yang wudhu dengan sangat tenang, apa yang kamu lakukan?

·         Rara : “Aku bilang, ‘Wah, sabar banget sih, salut!’ Kasih tutor dong suhu.”

·         Nayla : “Dulu aku suka ledek, ‘Lamban amat!’ Tapi sekarang nggak, karena guru bilang itu baik.”

 

3.      Apa yang membuatmu malas atau terburu-buru saat wudhu?

·         Athif (si paling aktif bertanya): “Waktu istirahatnya mepet. Takut ketinggalan salat berjamaah. Jadi buru-buru.”

·         Mahfudz (si paling eksplor): “Kadang teman-teman sudah pada selesai, aku sendiri yang masih. Malu, jadi ikut cepet.”

·         Rohim ( si paling introvert ) : “Kalau lagi rame, suka di godain teman, jadi wudhunya nggak fokus.”

   Observasi Langsung

1.               Kegiatan: Praktik wudhu berjamaah sebelum shalat Dzuhur
Hasil Observasi
: Guru memimpin dengan gerakan lambat sambil membacakan doa. Sebagian besar siswa (sekitar 70%) mengikuti urutan dengan benar. Namun hanya 40% yang membaca doa dengan suara terdengar. Ekspresi tenang terlihat pada 35% siswa. Masih ada siswa yang bermain air dan berebut kran.


Interpretasi: Aspek psikomotorik cukup baik, tetapi aspek afektif (ketenangan dan penghayatan) masih perlu ditingkatkan. Pengawasan guru yang konsisten membantu mengurangi perilaku tergesa-gesa.

 

2.               Kegiatan: Mendengarkan cerita tentang keutamaan wudhu (kisah Rabi’ah al-Adawiyah)
Hasil Observasi: 
Siswa antusias mendengarkan. Beberapa siswa mengajukan pertanyaan, “Bu, kalau kita wudhu tapi hati masih marah-marah, gimana?” Guru menjawab dengan mengajak siswa menarik napas dan merasakan air sebagai penyejuk.


Interpretasi: 
Metode storytelling efektif untuk meningkatkan pemahaman kognitif dan membangun rasa ingin tahu spiritual. Namun, transfer ke perilaku nyata membutuhkan praktik berulang dan penguatan.

 


 

LAMPIRAN 2: DOKUMENTASI

Gambar 1: Proses Pembelajaran dan Praktik Wudhu siswa MTs Hidayatul Mubtadii

  


 






   Gambar 2: Wawancara Santai dengan Wali Murid


Mendengarkan cerita dari hati seorang ibu. Lewat obrolan santai ini, kami semakin memahami harapan dan kebutuhan para wali murid untuk mendukung pendidikan anak anak mereka salah satunya tentang penghayatan wudhu dan kedisiplinan ibadah ketika di rumah

 

  Gambar 3: Bimbingan Pemahaman Guru tentang Kurikulum Berbasis Cinta Oleh Kemenag



     

     

 

0 komentar :

Posting Komentar