MINI RISET
“Analisis Implementasi
Kurikulum Berbasis Cinta dalam Praktik Wudhu Siswa Madrasah Tsanawiyah ”
Di
buat guna memenuhi tugas UTS Mata Kuliah:
Analisis Kurikulum dan Silabus PAI satuan
Pendidikan
Dosen
Pengampu : Dr. Siti Maryam Munjiat,S.S,.M.Pd.
Di susun oleh Kelompok 13 :
1.
Hadi Khoirul
Anam 2381130832
2.
Nurul Azmi 2381130846
3.
Siti Umi Hani
Amalia 2381130824
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN JARAK JAUH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SIBER
NURJATI CIREBON
TAHUN 2026
“Analisis Implementasi
Kurikulum Berbasis Cinta dalam Praktik Wudhu Siswa Madrasah Tsanawiyah ”
Hadi Khoirul Anam , Nurul Azmi, Siti Umi Hani Amalia
Universitas
Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon (UINSSC)
Diserahkan tanggal 22 April
2026 | Diterima tanggal 22 April 2026 | Diterbitkan tanggal –
Abstract:
This study analyzes the
implementation of a love-based curriculum in the ablution (wudhu) practice of
students at MTs Hidayatul Mubtadiin and MTs Ma’arif NU 02 Bruno. Using a
qualitative multi-case study approach supported by descriptive quantitative
data, data were collected through participatory observation, in-depth
interviews with teachers and students, documentation, and simple
questionnaires. The results indicate that the love-based curriculum has been implemented
through three main strategies: storytelling about the virtues of ablution,
direct practice with affective reinforcement, and the habituation of
congregational ablution. The level of achievement for the cognitive aspect
reached 70% (achieved), psychomotor 66% (achieved), but the affective aspect
only reached 52% (moderately achieved). The main supporting factors are teacher
exemplarity and a religious madrasah environment. The inhibiting factors
include students‘ lack of inner awareness, a rushed school schedule, the
absence of reinforcement at home, and peer influence. This study recommends
strengthening reflective methods, developing a love-based ablution pocketbook,
and collaborating with parents to optimize curriculum implementation.
Keywords
: Curriculum Implementation, Love-Based Curriculum,
Wudhu, Madrasah Tsanawiyah
Abstrak:
Penelitian ini menganalisis
implementasi kurikulum berbasis cinta dalam praktik wudhu siswa di MTs
Hidayatul Mubtadiin dan MTs Ma’arif NU 02 Bruno. Menggunakan pendekatan
kualitatif studi multi-kasus yang didukung data deskriptif kuantitatif, data
dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan guru dan
siswa, dokumentasi, serta angket sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kurikulum berbasis cinta telah diimplementasikan melalui tiga strategi utama:
bercerita tentang keutamaan wudhu, praktik langsung dengan penguatan afektif,
serta pembiasaan wudhu berjamaah. Tingkat ketercapaian aspek kognitif mencapai
70% (tercapai), psikomotorik 66% (tercapai), namun aspek afektif hanya 52%
(cukup tercapai). Faktor pendukung utama adalah keteladanan guru dan lingkungan
madrasah yang religius. Faktor penghambat meliputi kurangnya kesadaran batin
siswa, jadwal sekolah yang terburu-buru, minimnya penguatan di rumah, dan
pengaruh teman sebaya. Penelitian ini merekomendasikan penguatan metode
reflektif, pengembangan buku saku wudhu berbasis cinta, dan kolaborasi dengan
orang tua untuk mengoptimalkan implementasi kurikulum.
Kata kunci: Implementasi
Kurikulum, Kurikulum Berbasis Cinta, Wudhu, Madrasah Tsanawiyah
Kurikulum berbasis cinta (mahabbah)
merupakan pendekatan yang menempatkan cinta kepada Allah sebagai ruh dalam
setiap pembelajaran ibadah di madrasah. Berbeda dengan kurikulum konvensional yang cenderung
menekankan aspek prosedural dan kognitif, kurikulum berbasis cinta berusaha
menyentuh ranah afektif dan spiritual siswa (Hamid, 2019). Implementasinya
dalam pembelajaran praktik wudhu menjadi penting karena wudhu bukan hanya
syarat sah shalat, tetapi juga momen mendekatkan diri kepada Yang Dicintai.
Wudhu secara harfiah
berarti bersih dan indah. Secara teologis, wudhu adalah sarana thaharah
(bersuci) yang menjadi prasyarat utama menghadap Allah SWT dalam salat. Wudhu
bukan hanya aktivitas membasuh anggota tubuh dengan air, melainkan simbol
pembersihan jiwa dari noda dosa dan persiapan mental untuk berkomunikasi secara
intim dengan Sang Pencipta (Al-Ghazali, 2008). Namun, dalam realitas pedagogis,
pembelajaran praktik wudhu sering kali terjebak pada pendekatan mekanistik dan
formalistik. Siswa cenderung menghafal urutan dan gerakan tanpa memahami esensi
spiritual di baliknya, sehingga ibadah wudhu dilakukan sebatas menggugurkan
kewajiban tanpa adanya keterikatan batin.
Fenomena di lapangan
menunjukkan bahwa banyak siswa MTs yang mampu mempraktikkan tata cara wudhu
secara teknis, namun gagal menginternalisasi nilai-nilai kesucian dan
ketenangan yang seharusnya dihasilkan dari proses tersebut. Pendekatan
pembelajaran yang terlalu berorientasi pada aspek kognitif dan kepatuhan
administratif sering kali mengabaikan sisi afektif siswa. Hal ini menyebabkan
munculnya kejenuhan dan hilangnya makna dalam beribadah.
MTs Hidayatul
Mubtadiin dan MTs Ma’arif NU 02 Bruno sebagai madrasah berciri Ahlussunnah wal
Jama’ah telah mendeklarasikan penerapan kurikulum berbasis cinta dalam semua
mata pelajaran, termasuk Fikih. Namun, berdasarkan observasi awal, terlihat
kesenjangan antara desain kurikulum dan praktik di lapangan. Banyak siswa
melakukan wudhu secara tergesa-gesa, bermain air, tidak membaca doa dengan
penghayatan, dan tidak menunjukkan ekspresi ketenangan batin. Hal ini
mengindikasikan bahwa implementasi kurikulum berbasis cinta belum berjalan
optimal.
Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis bagaimana implementasi kurikulum berbasis cinta
dalam praktik wudhu siswa, mencakup strategi yang digunakan guru, tingkat
ketercapaian pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta faktor
pendukung dan penghambat implementasi. Hasil penelitian diharapkan menjadi
bahan evaluasi bagi madrasah dalam menyempurnakan implementasi kurikulum
berbasis cinta.
