Rabu, 22 April 2026

Analisis Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam Praktik Wudhu Siswa Madrasah Tsanawiyah

 

MINI RISET

“Analisis Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam Praktik Wudhu Siswa Madrasah Tsanawiyah ”

Di buat guna memenuhi tugas UTS Mata Kuliah:

 Analisis Kurikulum dan Silabus PAI satuan Pendidikan

Dosen Pengampu : Dr. Siti Maryam Munjiat,S.S,.M.Pd.

 

 


  

Di susun oleh Kelompok 13 :

1.      Hadi Khoirul Anam          2381130832

2.      Nurul Azmi                       2381130846

3.      Siti Umi Hani Amalia       2381130824

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN JARAK JAUH

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SIBER NURJATI CIREBON

TAHUN 2026

 

 

“Analisis Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam Praktik Wudhu Siswa Madrasah Tsanawiyah ”

Hadi Khoirul Anam , Nurul Azmi, Siti Umi Hani Amalia

Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon (UINSSC)

hadipomosda@gmail.com

azmi100504@gmail.com

amaliaumii12@gmail.com

 

Diserahkan tanggal 22 April 2026 | Diterima tanggal 22 April 2026 | Diterbitkan tanggal –

 

Abstract:

This study analyzes the implementation of a love-based curriculum in the ablution (wudhu) practice of students at MTs Hidayatul Mubtadiin and MTs Ma’arif NU 02 Bruno. Using a qualitative multi-case study approach supported by descriptive quantitative data, data were collected through participatory observation, in-depth interviews with teachers and students, documentation, and simple questionnaires. The results indicate that the love-based curriculum has been implemented through three main strategies: storytelling about the virtues of ablution, direct practice with affective reinforcement, and the habituation of congregational ablution. The level of achievement for the cognitive aspect reached 70% (achieved), psychomotor 66% (achieved), but the affective aspect only reached 52% (moderately achieved). The main supporting factors are teacher exemplarity and a religious madrasah environment. The inhibiting factors include students‘ lack of inner awareness, a rushed school schedule, the absence of reinforcement at home, and peer influence. This study recommends strengthening reflective methods, developing a love-based ablution pocketbook, and collaborating with parents to optimize curriculum implementation.

 

Keywords : Curriculum Implementation, Love-Based Curriculum, Wudhu, Madrasah Tsanawiyah

 

Abstrak:

Penelitian ini menganalisis implementasi kurikulum berbasis cinta dalam praktik wudhu siswa di MTs Hidayatul Mubtadiin dan MTs Ma’arif NU 02 Bruno. Menggunakan pendekatan kualitatif studi multi-kasus yang didukung data deskriptif kuantitatif, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan guru dan siswa, dokumentasi, serta angket sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum berbasis cinta telah diimplementasikan melalui tiga strategi utama: bercerita tentang keutamaan wudhu, praktik langsung dengan penguatan afektif, serta pembiasaan wudhu berjamaah. Tingkat ketercapaian aspek kognitif mencapai 70% (tercapai), psikomotorik 66% (tercapai), namun aspek afektif hanya 52% (cukup tercapai). Faktor pendukung utama adalah keteladanan guru dan lingkungan madrasah yang religius. Faktor penghambat meliputi kurangnya kesadaran batin siswa, jadwal sekolah yang terburu-buru, minimnya penguatan di rumah, dan pengaruh teman sebaya. Penelitian ini merekomendasikan penguatan metode reflektif, pengembangan buku saku wudhu berbasis cinta, dan kolaborasi dengan orang tua untuk mengoptimalkan implementasi kurikulum.

 

Kata kunci:  Implementasi Kurikulum, Kurikulum Berbasis Cinta, Wudhu, Madrasah Tsanawiyah

 

 PENDAHULUAN

Kurikulum berbasis cinta (mahabbah) merupakan pendekatan yang menempatkan cinta kepada Allah sebagai ruh dalam setiap pembelajaran ibadah di madrasah. Berbeda dengan kurikulum konvensional yang cenderung menekankan aspek prosedural dan kognitif, kurikulum berbasis cinta berusaha menyentuh ranah afektif dan spiritual siswa (Hamid, 2019). Implementasinya dalam pembelajaran praktik wudhu menjadi penting karena wudhu bukan hanya syarat sah shalat, tetapi juga momen mendekatkan diri kepada Yang Dicintai.

Wudhu secara harfiah berarti bersih dan indah. Secara teologis, wudhu adalah sarana thaharah (bersuci) yang menjadi prasyarat utama menghadap Allah SWT dalam salat. Wudhu bukan hanya aktivitas membasuh anggota tubuh dengan air, melainkan simbol pembersihan jiwa dari noda dosa dan persiapan mental untuk berkomunikasi secara intim dengan Sang Pencipta (Al-Ghazali, 2008). Namun, dalam realitas pedagogis, pembelajaran praktik wudhu sering kali terjebak pada pendekatan mekanistik dan formalistik. Siswa cenderung menghafal urutan dan gerakan tanpa memahami esensi spiritual di baliknya, sehingga ibadah wudhu dilakukan sebatas menggugurkan kewajiban tanpa adanya keterikatan batin.

Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa MTs yang mampu mempraktikkan tata cara wudhu secara teknis, namun gagal menginternalisasi nilai-nilai kesucian dan ketenangan yang seharusnya dihasilkan dari proses tersebut. Pendekatan pembelajaran yang terlalu berorientasi pada aspek kognitif dan kepatuhan administratif sering kali mengabaikan sisi afektif siswa. Hal ini menyebabkan munculnya kejenuhan dan hilangnya makna dalam beribadah.

MTs Hidayatul Mubtadiin dan MTs Ma’arif NU 02 Bruno sebagai madrasah berciri Ahlussunnah wal Jama’ah telah mendeklarasikan penerapan kurikulum berbasis cinta dalam semua mata pelajaran, termasuk Fikih. Namun, berdasarkan observasi awal, terlihat kesenjangan antara desain kurikulum dan praktik di lapangan. Banyak siswa melakukan wudhu secara tergesa-gesa, bermain air, tidak membaca doa dengan penghayatan, dan tidak menunjukkan ekspresi ketenangan batin. Hal ini mengindikasikan bahwa implementasi kurikulum berbasis cinta belum berjalan optimal.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana implementasi kurikulum berbasis cinta dalam praktik wudhu siswa, mencakup strategi yang digunakan guru, tingkat ketercapaian pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta faktor pendukung dan penghambat implementasi. Hasil penelitian diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi madrasah dalam menyempurnakan implementasi kurikulum berbasis cinta.